Pertama kali usaha rumahan yang dijalani adalah membuat usaha kue. Namun, saat bencana Pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan seluruh dunia membuat usaha kue tersebut mengalami penurunan omzet yang sangat drastis. Hal ini karena masa itu adanya pembatasan aktifitas sosial di dalam masyarakat. Kondisi pada saat Pandemi Covid-19 tersebut memunculkan gagasan yaitu memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan dengan memulai membuat hidroponik. Awalnya hidroponik yang dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan berbagi dengan tetangga sekitar. Hidroponik yang dibuat berhasil menanam sayuran dan akhirnya menambah membuat instalasi-instalasi dari peralon. Dengan semakin banyak varian sayur yang ditanam maka mulailah banyak pengunjung yang datang untuk belajar hidroponik baik secara pribadi maupun komunitas. Sehingga hal ini memunculkan ide untuk membuat pelatihan hidroponik untuk pemula, pelatihan meracik pupuk hidroponik yaitu pupuk AB Mix dan cooking class untuk mengolah sayur hasil dari hidroponik menjadi juice, es krim dan keripik.
Untuk melengkapi kegiatan pelatihan mulai 2023 dibuatlah peternakan domba dengan kapasitas kandang 150 ekor. Selain untuk belajar pertanian peternakan milenial, di Azalea Farm juga menyediakan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi ecoenzym. Pengolahan ecoenzym untuk sabun ramah lingkungan, pengolahan minyak jelantah menjadi sabun serba guna serta ada juga kelas untuk pembuatan sabun natural, olahan pangan lokal dan jasa aqiqah.
Harapannya agar Azalea Farm lebih bermanfaat untuk masyarakat sekitar, maka dibentuklah Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk pengolahan hasil hidroponik dan juga kelompok untuk pengolahan limbah peternakan yaitu membuat pupuk dari kotoran domba.
